Page 50 - Rekayasa Pantai
P. 50

Data  angin  dapat  diperoleh  di  Badan  Meteorologi  Klimatologi  dan  Geofisika
                  (BMKG) di Jakarta, maupun di semua stasiun BMKG di bandara se-Indonesia.
                  Selain itu dapat pula dengan mengunduh (download) dari lembaga klimatologi di
                  Eropa  atau  negara  lain,  seperti  European  Centre  for  Medium-Range  Weather
                  Forecasts  (ECMWF),  dan  National  Oceanic  and  Atmospheric  Administration
                  (NOAA) dari Amerika Serikat.

                  Pembangkitan Gelombang oleh Angin
                  Gaya pembangkit yang paling umum untuk gelombang air adalah angin. Saat angin
                  bertiup  melintasi  permukaan  air,  gesekan  atau  tarikan  antara  udara  dan  air
                  cenderung membentur permukaan air, sehingga permukaan yang semula tenang,
                  akan  tampak  gangguan  pada  permukaan  tersebut,  dengan  timbulnya  riak
                  gelombang kecil (ripples). Apabila kecepatan angin bertambah, maka riak tersebut
                  menjadi semakin besar, dan jika angin bertiup/berhembus lebih lama di atas air,
                  maka akan terbentuk gelombang. Semakin lama durasi angin bertiup, semakin kuat
                  angin berhembus, dan semakin panjang daerah pembangkitan gelombang, maka
                  gelombang yang terbentuk menjadi semakin besar. Oleh karena itu pembangkitan
                  gelombang oleh angin sangat tergantung pada parameter berikut ini:
                         1.  Kecepatan angin rata-rata di permukaan air (W atau U)
                         2.  Arah datang angin
                         3.  Panjang  daerah  pembangkitan  gelombang,  dengan  kecepatan  dan
                            arah angin yang konstan (fetch, F)
                         4.  Lama hembus angin atau durasi angin bertiup pada fetch (t)

                  Kecepatan  angin  rata-rata  di  permukaan  air  diperoleh  setelah  terlebih  dahulu
                  melakukan analisis distribusi arah datang angin, yaitu meninjau angin yang terjadi
                  pada suatu tempat dari berbagai arah. Arah yang ditinjau umumnya mengacu pada
                  8 arah mata angin, yaitu dengan interval 45  dengan batasan sebagai berikut:
                                                      0
                                                      0
                                                            0
                         1.  Utara      (337,5 ≤ x < 360 atau 0 ≤ x < 22,5)
                                                      0
                         2.  Timur Laut  (22,5  ≤ x < 67,5 )
                                            0
                                            0
                                                       0
                         3.  Timur      (67,5  ≤ x < 112,5 )
                                             0
                                                        0
                         4.  Tenggara   (112,5  ≤ x < 157,5 )
                                             0
                         5.  Selatan    (157,5  ≤ x < 202,5,5 )
                                                          0
                                                        0
                                             0
                         6.  Barat Daya  (202,5  ≤ x < 247,5 )
                         7.  Barat      (247,5  ≤ x < 292,5 )
                                                        0
                                             0
                                                        0
                         8.  Barat Laut   (292,5  ≤ x < 337,5 )
                                             0
                  Satuan kecepatan angin dalam knot atau dalam m/s, dimana 1 knot = 1 nautical
                  mile/hour = 1 nm/hr = 0,5148 m/s.
                  Secara visual, hasil analisis distribusi angin umumnya ditampilkan dalam bentuk
                  mawar angin (windrose) seperti contoh pada Gambar 4.2.
                                                    40
   45   46   47   48   49   50   51   52   53   54   55